Sunday, March 10, 2013

Tumblr understands

It's another of those heavy nights
Where I don't want to move
or sleep
or get out of the shower,
and my dearest companions
are the words forming so quick in my mind
that I can't keep up.

And every night
the showers get hotter
and longer
and one day my flesh will melt off
and you'll find me
a collapsed skeleton
waiting for you
to pull me out of the drain.

Tuesday, March 5, 2013

apa ya, ya gitu deh.

"Tuhan, Dewa Zeus, Sidharta Gautama, siapapun yang ada di atas sana, saya sedang lelah karena tekanan. Lelah karena sekolah, dan mereka bilang saya lelah mencintai. Bawalah saya keatas sana sebentar saja, untuk bertemu dengan-Mu untuk berbincang dan mengeluarkan isi hati, karena hanya-Mu lah yang paling mengerti bukan?"

Tapi begitulah sekolah.
Begitulah realita.
Saya dikurung, dijadikan babu, disuruh ini itu, demi mempertaruhkan segala yang saya punya dan ingat demi beberapa lembar hitam di atas putih dan berharap tidak ada merah diatasnya.
Hampir saja saya menyerah kepada awan-awan kelabu, karena sudah tidak kuat menatap matahari.
Saya ingin pengurungan dalam jeruji besi ini cepat terbuka, dan akhirnya saya bisa bebas sebebasnya.
Bebas sambil salto kayang sikap lilin kalo perlu.


Makanya bell, semangat ya, belajar yang rajin,
gak boleh nyerah sekarang, karena semuanya masih panjang. :') 
#menyemangatidirisendiri

Thursday, February 21, 2013

"Apabila buah pikiran telah dibentur dengan sangkur
Apabila dalam komunikasi hanya boleh satu pihak yang bicara
Seandainya kekuasaan hanya menciptakan takhta dan penjara
Seandainya pilihan untuk keselamatan hanyalah menjadi burung beo atau penjahat resmi,
sudah lumrah apabila pagi ini
seorang gadis berwajah penasaran bertanya kepada saya:
'apakah Mas Willy percaya kepada kemerdekaan?'

Apakah artinya janji yang ditulis di pasir?
Apakah artinya pegangan yang hanyut di air?
Apakah artinya tata warna dan naluri rendah kekuasaan?
Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini?
Aku mendengar deru derap langkah-langkah kaki 
kemudian aku bertanya:
Di dalam kemelut kentut zaman ini,
deru derap barisan siapakah itu?
deru derap penindasan?
ataukah deru derap pembebasan?"

Dikutip dari sebuah puisi keren berjudul 'Ketika Udara Bising' oleh Rendra (1980).


Jadi, apakah arti kemerdekaan itu?

Tuesday, December 18, 2012

Vulcanic mind

Karena pada suatu titik, semuanya mencapai batas maksimum.
Dan pada saat itu juga, apa yang ada di kepala kita bakal meledak gitu aja, berceceran karena terlalu lama dipendam. Atau karena terlalu lama dikubur dalam-dalam, dan ditutup rapat-rapat.
Dan pada saat kita meledak, kita gak akan pernah tau dimana, kapan, dan sama siapa.

Kadang nulis itu adalah suatu pelarian.
Blog ini isinya emang sampah semua, dan emang harus dibuang.
Hampir semuanya ditulis disini, tapi emang cuma beberapa yang berhasil di post dan sisanya cuma berakhir di draft. Emang gak konsisten, tapi mau gimana lagi? Udah berpuluh-puluh ratus-ratus post numpuk bersarang di draft berabad-abad, gak jelas posisinya dimana. Mau gimanapun juga, keberanian untuk memencet tombol publish mulai menciut seiring selesainya suatu post. Dan yang paling parah, sampai post-nya dihapus.
Semua yang ditulis dimaksudkan untuk dibaca. Saya diam dan ingin dibaca. Saya banyak berbisik, supaya mereka tau. Tapi berbisik berarti tidak ingin semuanya tau.
Ribet emang.

Bener juga kata orang, kadang yang dibutuhin itu seorang kayak diri kita yang ngerti maksud dan tujuannya. Kalo raga ini bisa dibelah jadi dua dan dia akan diam di sisi tempat tidur, dan saya akan diam di sisi yang satunya, trus saya akan terus berbicara berbusa-busa sampai suara habis kalo perlu tanpa perlu berpikir tentang apa yang harus dikatakkan dan apa yang tidak harus dikatakkan, karena saya sedang berbicara dengan saya yang duduk di sisi kasur lainnya. Tau-tau kita dipeluk dengan kita sendiri, dan setengah dari kita kembali lagi menjadi satu raga.

Karena capek untuk menjadi capek itu sangat bikin capek, ya kan?

"senaif-naifnya penulis, sejinak-jinaknya pikiran pembaca, sebuah blog tidak bisa memeluk penulisnya sendiri."

Ya coba manusia sesederhana itu, dan gak banyak maunya.

Yaudah, pukpuk diri sendiri aja deh trus peluk guling sambil guling-guling di kasur.
ha ha ha #random.

Wednesday, December 12, 2012

brain freeze.

Hari 1, 2, 3, 4, 5, dst...
Berlalu lalang seperti biasa
dalam sunyi, mengendap-ngendap tanpa tau waktu kapan berganti.
Seperti daun kering di atas aspal
yang hanya diam menunggu angin.

Senyuman simpul diatas raut wajah bisa menyimpulkan segalanya.
Tetapi didalamnya hanya seonggok daging yang mengalir darah dan bisa bernafas.

Kakinya terus berjalan dalam lingkaran yang sama.
Hatinya berdiam dalam hening dan mengkomplekskan banyak hal.
Merasa apa yang seharusnya tidak dirasa,
dan tidak merasa apa yang seharusnya dirasa.


apa?
Mati rasa.

Lalu?
Tidak tau.

Wednesday, November 21, 2012

Tanya kenapa?

*ceritanya lagi main Truth Or Dare.*

"Oke truth. Kasih kita 5 alasan kenapa."

"Kalo pertanyaan lo kenapa, gue gak akan bisa jawab. Karena perasaan semacam itu gak bisa dijabarin dengan kata-kata. Perasaan tersebut datangnya dari hati, bukan otak. Makanya kalo ditanya kenapa, gue gak bisa ngasih alasan yang harus dipikir dari otak, tapi harus dirasakan sendiri dari hati. Masih tanya juga kenapa? Gak ada kata-kata yang bisa mengekspresikan apa perasaan sayang itu, bahkan KBBI sendiri belum lengkap jelasinnya."


-sekian.

Wednesday, November 14, 2012

Tulisan di atas angka

"Hujan jatuh membentuk embun beku. Disisi lain, matahari mulai merayap keluar dengan tentakel-tentakel apinya. Raga itu meratap di sudut ruangan, tertunduk pasi menatap tanah. Jiwanya sudah lama bersua dengan sunyi. Dingin telah lama bertapa di sekujur hatinya. Otaknya sudah terpenuhi oleh hal-hal kompleks. Matahari itu ada disana, tapi ia ada disini. Sudah terlalu lama ia bertapa dengan bulan, sampai lupa siapa itu matahari. Sudah terlalu lama ia duduk termangu bersama bulan, karena ia sudah terlalu lelah untuk mengejar lagi matahari untuk yang kesekian kalinya."





-coretan kecil di sudut buku, jam pelajaran ke 9; Matematika.